Pangandaranku -
Jakarta (Pangandaranku) - Dosen Program Studi Kajian Ketahanan Nasional (PKN) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia Dr. Stanislaus Riyanta mendorong penguatan kontra intelijen nasional guna menghadapi potensi ancaman asing.
“Membangun suatu badan kontra intelijen sangat penting untuk mencegah ancaman-ancaman,” kata Stanislaus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Hal itu disampaikannya dalam Seminar Intelijen Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitk dan Ancaman Asimetris yang digelar oleh Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, di Gedung IASTH, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.
Ia menjelaskan, ancaman dari pihak asing muncul ketika terdapat kerentanan sistem keamanan di dalam negeri dan adanya daya tarik strategis suatu negara.
Menurut dia, Indonesia tidak dapat menghilangkan faktor daya tarik, sehingga langkah yang paling realistis adalah memperkuat sistem pengamanan, termasuk melalui penguatan fungsi kontra intelijen.
Stanislaus menilai saat ini fungsi kontra intelijen di Indonesia masih tersebar di sejumlah lembaga, seperti di Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, namun belum terintegrasi dalam suatu badan khusus.