Pangandaranku -
Beirut (Pangandaranku) - Gencatan senjata selama 10 hari dengan Israel hanyalah langkah awal menuju pembebasan penuh Lebanon dan tujuan utama gerakan Hizbullah, kata anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah pada Jumat.
“Ini adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Tugas utama kami bukan kembali ke tahap sebelumnya, tetapi memastikan penarikan musuh dan kembalinya warga ke desa mereka,” kata Fadlallah kepada wartawan di pinggiran selatan Beirut.
“Setiap upaya ke arah ini patut diapresiasi, tapi gencatan senjata tidak boleh dijadikan alat tawar menawar bagi tekanan musuh terhadap otoritas Lebanon,” tambahnya.
Hizbullah mendukung gencatan senjata tersebut, tetapi akan terus menuntut penghentian penuh permusuhan, penarikan total Israel dari wilayah Lebanon, kembalinya warga ke rumah mereka, pembebasan tahanan, serta upaya rekonstruksi, tambahnya.
“Ini adalah syaratnya. Ini adalah prinsipnya. Hal lain tidak terlalu berarti bagi rakyat kami,” kata Fadlallah.
Menurutnya, Israel terpaksa menyetujui gencatan senjata bukan karena pernyataan atau seruan dari Washington, melainkan berkat keberhasilan diplomatik Iran dan perlawanan efektif pejuang Hizbullah terhadap kemajuan militer Israel di Lebanon.
Pimpinan Hizbullah secara resmi diberi tahu sekitar pukul 04.00 pada Kamis (16/4) oleh duta besar Iran untuk Lebanon bahwa gencatan senjata akan dimulai pada Jumat malam, dengan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menghubungi Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun, ujar Fadlallah.
“Saudara-saudara kami di Republik Islam juga memberi tahu kami tentang keterlibatan mereka dengan Arab Saudi dan Pakistan, ini merupakan faktor yang berkontribusi, mendukung, dan memfasilitasi tercapainya gencatan senjata sebagai langkah awal, tambahnya.