Pangandaran | Trip Wisata Premium Pangandaranku
Kembali ke Berita

Iran Gunakan Bitcoin untuk Biaya Kapal di Selat Hormuz, Kripto Rebound

16 April 2026
VIDEO : GLOBAL
Thumbnail

Pangandaranku -

Pangandaranku.CO.ID, JAKARTA — Kebijakan Iran mewajibkan pembayaran tol laut menggunakan Bitcoin di Selat Hormuz memicu kenaikan harga kripto. Langkah ini dinilai menandai pergeseran peran kripto dari sekadar aset investasi menjadi alat transaksi strategis lintas negara. Harga Bitcoin tercatat meningkat sekitar 6 persen hingga mendekati 75.000 dolar AS pada awal pekan setelah aksi short squeeze besar di tengah ketegangan geopolitik. Baca Juga Bitcoin Terkoreksi Usai Keputusan The Fed Harga Emas Merosot, Bitcoin Justru Menguat Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya posisi kripto dalam merespons tekanan global. “Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony, Kamis (16/4/2026). Kebijakan Iran mengenakan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan baru secara instan. Skema ini juga menjadi strategi untuk menjaga transaksi tetap berjalan di tengah tekanan sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem berbasis blockchain. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 3,3 persen turut memperkuat minat investor terhadap aset alternatif. Kondisi ini mendorong diversifikasi ke kripto sekaligus memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Pergerakan harga juga didukung arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April. Likuiditas ini memperkuat momentum penguatan dalam jangka pendek. Sentimen positif turut mendorong kenaikan aset kripto lain seperti Ethereum yang naik 8 persen ke 2.380 dolar AS, Solana menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, dan BNB naik 3,2 persen ke 615,50 dolar AS. Antony menilai dinamika ini menunjukkan industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsi global. Peran kripto tidak lagi terbatas sebagai instrumen spekulatif, tetapi mulai masuk ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” ujarnya. Meski demikian, volatilitas pasar tetap tinggi dan dipengaruhi faktor makroekonomi seperti kebijakan moneter dan rilis data ekonomi Amerika Serikat. Investor diimbau tetap mengedepankan manajemen risiko. Secara historis, April menjadi bulan positif bagi Bitcoin. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik, termasuk kebijakan Iran yang membuka babak baru penggunaan kripto di level negara. Indodax menilai perkembangan ini mencerminkan pergeseran kripto menjadi bagian dari dinamika ekonomi global dan berkomitmen menyediakan platform yang aman serta transparan bagi investor.

Pangandaranku.CO.ID, JAKARTA — Kebijakan Iran mewajibkan pembayaran tol laut menggunakan Bitcoin di Selat Hormuz memicu kenaikan harga kripto. Langkah ini dinilai menandai pergeseran peran kripto dari sekadar aset investasi menjadi alat transaksi strategis lintas negara.

Harga Bitcoin tercatat meningkat sekitar 6 persen hingga mendekati 75.000 dolar AS pada awal pekan setelah aksi short squeeze besar di tengah ketegangan geopolitik. Baca Juga Bitcoin Terkoreksi Usai Keputusan The Fed Harga Emas Merosot, Bitcoin Justru Menguat Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya posisi kripto dalam merespons tekanan global. “Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony, Kamis (16/4/2026). Kebijakan Iran mengenakan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan baru secara instan. Skema ini juga menjadi strategi untuk menjaga transaksi tetap berjalan di tengah tekanan sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem berbasis blockchain. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 3,3 persen turut memperkuat minat investor terhadap aset alternatif. Kondisi ini mendorong diversifikasi ke kripto sekaligus memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Pergerakan harga juga didukung arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April. Likuiditas ini memperkuat momentum penguatan dalam jangka pendek. Sentimen positif turut mendorong kenaikan aset kripto lain seperti Ethereum yang naik 8 persen ke 2.380 dolar AS, Solana menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, dan BNB naik 3,2 persen ke 615,50 dolar AS. Antony menilai dinamika ini menunjukkan industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsi global. Peran kripto tidak lagi terbatas sebagai instrumen spekulatif, tetapi mulai masuk ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” ujarnya. Meski demikian, volatilitas pasar tetap tinggi dan dipengaruhi faktor makroekonomi seperti kebijakan moneter dan rilis data ekonomi Amerika Serikat. Investor diimbau tetap mengedepankan manajemen risiko. Secara historis, April menjadi bulan positif bagi Bitcoin. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik, termasuk kebijakan Iran yang membuka babak baru penggunaan kripto di level negara. Indodax menilai perkembangan ini mencerminkan pergeseran kripto menjadi bagian dari dinamika ekonomi global dan berkomitmen menyediakan platform yang aman serta transparan bagi investor.

Harga Bitcoin tercatat meningkat sekitar 6 persen hingga mendekati 75.000 dolar AS pada awal pekan setelah aksi short squeeze besar di tengah ketegangan geopolitik.

Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya posisi kripto dalam merespons tekanan global. “Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony, Kamis (16/4/2026). Kebijakan Iran mengenakan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan baru secara instan. Skema ini juga menjadi strategi untuk menjaga transaksi tetap berjalan di tengah tekanan sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem berbasis blockchain. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 3,3 persen turut memperkuat minat investor terhadap aset alternatif. Kondisi ini mendorong diversifikasi ke kripto sekaligus memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Pergerakan harga juga didukung arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April. Likuiditas ini memperkuat momentum penguatan dalam jangka pendek. Sentimen positif turut mendorong kenaikan aset kripto lain seperti Ethereum yang naik 8 persen ke 2.380 dolar AS, Solana menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, dan BNB naik 3,2 persen ke 615,50 dolar AS. Antony menilai dinamika ini menunjukkan industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsi global. Peran kripto tidak lagi terbatas sebagai instrumen spekulatif, tetapi mulai masuk ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” ujarnya. Meski demikian, volatilitas pasar tetap tinggi dan dipengaruhi faktor makroekonomi seperti kebijakan moneter dan rilis data ekonomi Amerika Serikat. Investor diimbau tetap mengedepankan manajemen risiko. Secara historis, April menjadi bulan positif bagi Bitcoin. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik, termasuk kebijakan Iran yang membuka babak baru penggunaan kripto di level negara. Indodax menilai perkembangan ini mencerminkan pergeseran kripto menjadi bagian dari dinamika ekonomi global dan berkomitmen menyediakan platform yang aman serta transparan bagi investor.

Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya posisi kripto dalam merespons tekanan global. “Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony, Kamis (16/4/2026).

Explore Pangandaran

Rencanakan Liburan
Ke Pangandaran?

Dapatkan paket wisata terbaik dengan harga spesial.

Rekomendasi Lainnya