Pangandaranku -
Pangandaranku, Oleh Erik Purnama Putra Jalan Tembus Pasar Minggu. Saya biasa melewatinya. Jalan ini bisa dikatakan proyek abadi. Hal itu karena pengerjaannya yang kunjung tidak rampung.
Jalan Tembus Pasar Minggu. Saya biasa melewatinya. Jalan ini bisa dikatakan proyek abadi. Hal itu karena pengerjaannya yang kunjung tidak rampung.
Jalan Tembus Pasar Minggu. Saya biasa melewatinya. Jalan ini bisa dikatakan proyek abadi. Hal itu karena pengerjaannya yang kunjung tidak rampung.
Bahkan gubernur DKI Jakarta silih berganti. Jalan tembus sepanjang dua kilometer (km) ini tidak juga kelar. Bahkan, tidak ada tanda-tanda proyek jalan tembus dilanjutkan. Malahan, saat ini, sedang dikerjakan proyek pengerukan untuk pemasangan pipa di lokasi. Dalam catatan penulis, proyek ini mulai dikerjakan sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (2014-2017). Setelah itu, berlanjut era Gubernur Djarot Saiful Hidayat (2017-2017), Gubernur Anies Rasyid Baswedan (2017-2022), dan Gubernur Pramono Anung Wibowo (2005-kini), proyek itu tidak ada progresnya. Di sela itu, ada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumarsono (2017-2017), Pelaksana Harian (Plh) Saefullah, Plt Gubernur Budi Heru Hartono (2022-2024), dan Teguh Setiabudi (2024-2025). Namun, pada era empat gubernur definitif dan plt maupun plh gubernur DKI, proyek jalan tembus tidak menunjukkan kemajuan. Entah mengapa? Apakah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI lupa punya proyek ini? Atau memang jalan tembus tersebut dibiarkan mangkrak begitu saja? Atau ada alasan lain yang tidak ketahui publik? Penulis mencatat, proyek jalan tembus samping rel dimulai dengan menggusur sejumlah bangunan di dekat Pertigaan Volvo, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika awal proyek ini dikerjakan, sepertinya tidak terlihat ada kendala apa pun. Sejumlah rumah juga dibongkar. Sayangnya, di tengah jalan kemudian progresnya sangat lambat. Mirip keong sedang jalan. Namun, satu yang pasti, jalan tembus di pinggir rel ini memang terkesan tidak terurus. Ada bagian jalan yang sudah rampung dilebarkan. Di sebagian jalan lain, masih ada bangunan yang belum dibebaskan. Bahkan, di sepanjang jalan setapak dekat Stasiun Pasar Minggu, perumahan masih berjejer lengkap. Belum ada satu pun yang dibebaskan, meski sudah ada yang dikosongkan. Hal itu menjadi tanda, perjalanan proyek ini masih panjang. Padahal, manfaat jalan tembus ini sangat dirasakan masyarakat, khususnya pengendara kendaraan jika rampung. Tentu saja, pengguna jalan dari arah Kalibata yang melintasi Markas Badan Intelijen Negara (BIN) tidak perlu putar ke Pertigaan Volvo jika menuju ke arah Tanjung Barat, Lenteng Agung, hingga Kota Depok, Jawa Barat. Selama ini, pertigaan tersebut kerap macet. Hal itu lantaran perjalanan KRL Commuter Line yang intensitasnya tinggi. Kadang mobil belum bergerak, palang pintu sudah ditutup lagi. Belum lagi, perlintasan sebidang juga licin setelah turun hujan. Hal itu membuat arus lalu lintas di Pertigaan Volvo menjadi langganan macet.
Bahkan gubernur DKI Jakarta silih berganti. Jalan tembus sepanjang dua kilometer (km) ini tidak juga kelar. Bahkan, tidak ada tanda-tanda proyek jalan tembus dilanjutkan. Malahan, saat ini, sedang dikerjakan proyek pengerukan untuk pemasangan pipa di lokasi.
Dalam catatan penulis, proyek ini mulai dikerjakan sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (2014-2017). Setelah itu, berlanjut era Gubernur Djarot Saiful Hidayat (2017-2017), Gubernur Anies Rasyid Baswedan (2017-2022), dan Gubernur Pramono Anung Wibowo (2005-kini), proyek itu tidak ada progresnya. Di sela itu, ada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumarsono (2017-2017), Pelaksana Harian (Plh) Saefullah, Plt Gubernur Budi Heru Hartono (2022-2024), dan Teguh Setiabudi (2024-2025). Namun, pada era empat gubernur definitif dan plt maupun plh gubernur DKI, proyek jalan tembus tidak menunjukkan kemajuan. Entah mengapa? Apakah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI lupa punya proyek ini? Atau memang jalan tembus tersebut dibiarkan mangkrak begitu saja? Atau ada alasan lain yang tidak ketahui publik? Penulis mencatat, proyek jalan tembus samping rel dimulai dengan menggusur sejumlah bangunan di dekat Pertigaan Volvo, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika awal proyek ini dikerjakan, sepertinya tidak terlihat ada kendala apa pun. Sejumlah rumah juga dibongkar. Sayangnya, di tengah jalan kemudian progresnya sangat lambat. Mirip keong sedang jalan. Namun, satu yang pasti, jalan tembus di pinggir rel ini memang terkesan tidak terurus. Ada bagian jalan yang sudah rampung dilebarkan. Di sebagian jalan lain, masih ada bangunan yang belum dibebaskan. Bahkan, di sepanjang jalan setapak dekat Stasiun Pasar Minggu, perumahan masih berjejer lengkap. Belum ada satu pun yang dibebaskan, meski sudah ada yang dikosongkan. Hal itu menjadi tanda, perjalanan proyek ini masih panjang. Padahal, manfaat jalan tembus ini sangat dirasakan masyarakat, khususnya pengendara kendaraan jika rampung. Tentu saja, pengguna jalan dari arah Kalibata yang melintasi Markas Badan Intelijen Negara (BIN) tidak perlu putar ke Pertigaan Volvo jika menuju ke arah Tanjung Barat, Lenteng Agung, hingga Kota Depok, Jawa Barat. Selama ini, pertigaan tersebut kerap macet. Hal itu lantaran perjalanan KRL Commuter Line yang intensitasnya tinggi. Kadang mobil belum bergerak, palang pintu sudah ditutup lagi. Belum lagi, perlintasan sebidang juga licin setelah turun hujan. Hal itu membuat arus lalu lintas di Pertigaan Volvo menjadi langganan macet.
Dalam catatan penulis, proyek ini mulai dikerjakan sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (2014-2017). Setelah itu, berlanjut era Gubernur Djarot Saiful Hidayat (2017-2017), Gubernur Anies Rasyid Baswedan (2017-2022), dan Gubernur Pramono Anung Wibowo (2005-kini), proyek itu tidak ada progresnya.
Di sela itu, ada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumarsono (2017-2017), Pelaksana Harian (Plh) Saefullah, Plt Gubernur Budi Heru Hartono (2022-2024), dan Teguh Setiabudi (2024-2025). Namun, pada era empat gubernur definitif dan plt maupun plh gubernur DKI, proyek jalan tembus tidak menunjukkan kemajuan. Entah mengapa? Apakah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI lupa punya proyek ini? Atau memang jalan tembus tersebut dibiarkan mangkrak begitu saja? Atau ada alasan lain yang tidak ketahui publik? Penulis mencatat, proyek jalan tembus samping rel dimulai dengan menggusur sejumlah bangunan di dekat Pertigaan Volvo, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika awal proyek ini dikerjakan, sepertinya tidak terlihat ada kendala apa pun. Sejumlah rumah juga dibongkar. Sayangnya, di tengah jalan kemudian progresnya sangat lambat. Mirip keong sedang jalan. Namun, satu yang pasti, jalan tembus di pinggir rel ini memang terkesan tidak terurus. Ada bagian jalan yang sudah rampung dilebarkan. Di sebagian jalan lain, masih ada bangunan yang belum dibebaskan. Bahkan, di sepanjang jalan setapak dekat Stasiun Pasar Minggu, perumahan masih berjejer lengkap. Belum ada satu pun yang dibebaskan, meski sudah ada yang dikosongkan. Hal itu menjadi tanda, perjalanan proyek ini masih panjang. Padahal, manfaat jalan tembus ini sangat dirasakan masyarakat, khususnya pengendara kendaraan jika rampung. Tentu saja, pengguna jalan dari arah Kalibata yang melintasi Markas Badan Intelijen Negara (BIN) tidak perlu putar ke Pertigaan Volvo jika menuju ke arah Tanjung Barat, Lenteng Agung, hingga Kota Depok, Jawa Barat. Selama ini, pertigaan tersebut kerap macet. Hal itu lantaran perjalanan KRL Commuter Line yang intensitasnya tinggi. Kadang mobil belum bergerak, palang pintu sudah ditutup lagi. Belum lagi, perlintasan sebidang juga licin setelah turun hujan. Hal itu membuat arus lalu lintas di Pertigaan Volvo menjadi langganan macet.
Di sela itu, ada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumarsono (2017-2017), Pelaksana Harian (Plh) Saefullah, Plt Gubernur Budi Heru Hartono (2022-2024), dan Teguh Setiabudi (2024-2025). Namun, pada era empat gubernur definitif dan plt maupun plh gubernur DKI, proyek jalan tembus tidak menunjukkan kemajuan.
Entah mengapa? Apakah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI lupa punya proyek ini? Atau memang jalan tembus tersebut dibiarkan mangkrak begitu saja? Atau ada alasan lain yang tidak ketahui publik? Penulis mencatat, proyek jalan tembus samping rel dimulai dengan menggusur sejumlah bangunan di dekat Pertigaan Volvo, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika awal proyek ini dikerjakan, sepertinya tidak terlihat ada kendala apa pun. Sejumlah rumah juga dibongkar. Sayangnya, di tengah jalan kemudian progresnya sangat lambat. Mirip keong sedang jalan. Namun, satu yang pasti, jalan tembus di pinggir rel ini memang terkesan tidak terurus. Ada bagian jalan yang sudah rampung dilebarkan. Di sebagian jalan lain, masih ada bangunan yang belum dibebaskan. Bahkan, di sepanjang jalan setapak dekat Stasiun Pasar Minggu, perumahan masih berjejer lengkap. Belum ada satu pun yang dibebaskan, meski sudah ada yang dikosongkan. Hal itu menjadi tanda, perjalanan proyek ini masih panjang. Padahal, manfaat jalan tembus ini sangat dirasakan masyarakat, khususnya pengendara kendaraan jika rampung. Tentu saja, pengguna jalan dari arah Kalibata yang melintasi Markas Badan Intelijen Negara (BIN) tidak perlu putar ke Pertigaan Volvo jika menuju ke arah Tanjung Barat, Lenteng Agung, hingga Kota Depok, Jawa Barat. Selama ini, pertigaan tersebut kerap macet. Hal itu lantaran perjalanan KRL Commuter Line yang intensitasnya tinggi. Kadang mobil belum bergerak, palang pintu sudah ditutup lagi. Belum lagi, perlintasan sebidang juga licin setelah turun hujan. Hal itu membuat arus lalu lintas di Pertigaan Volvo menjadi langganan macet.