Pangandaranku -
Data baru mengungkapkan bahwa pengaturan penggajian yang rumit memaksa 46% perusahaan global untuk meniadakan perekrutan internasional, sehingga meningkatkan tekanan untuk merombak strategi SDM.
Jakarta, Indonesia, (Pangandaranku/PRNewswire)- Kini bisnis menghadapi ekonomi global yang semakin kompleks dalam upaya mencapai pertumbuhan. Remote, platform SDM global terkemuka, membagikan data baru yang menyoroti tantangan spesifik yang menghambat pertumbuhan bisnis. Meningkatnya biaya hidup, meningkatnya permintaan akan transparansi gaji, dan kompleksitas seputar penggajian internasional merupakan hambatan signifikan yang menekan bisnis untuk meninjau kembali strategi retensi mereka.
Kekurangan tenaga kerja terampil dapat merugikan bisnis. Laporan Tenaga Kerja Global terbaru dari Remote, berdasarkan survei terhadap 3.650 pimpinan SDM di seluruh dunia, menemukan bahwa dalam 12 bulan terakhir, 72% bisnis gagal mencapai tujuan utamanya karena mereka tidak dapat menemukan tenaga kerja yang tepat. Akibatnya, perusahaan-perusahaan dengan cepat mengembangkan tenaga kerja global mereka. Rata-rata perusahaan kerah putih saat ini mempekerjakan talenta di 4 negara atau lebih, dan para pemimpin SDM memperkirakan angka ini akan tumbuh tajam pada tahun 2026 untuk berekspansi ke pasar baru.
Tenaga kerja terampil adalah fondasi dari setiap bisnis yang berkembang. Selain merekrut tenaga kerja, perusahaan juga harus mampu mempertahankan talenta terbaik agar dapat berkembang. Namun, hanya 62% pimpinan bisnis dan SDM di seluruh dunia yang menilai kinerja dan proses pengembangan perusahaan mereka sebagai sangat baik dalam mendukung retensi karyawan. Jumlah ini kurang dari dua pertiga bisnis yang disurvei.
Menutup celah tenaga kerja dan transparansi
Salah satu cara untuk mempertahankan tenaga kerja adalah dengan membangun kepercayaan. Riset dari Remote menunjukkan bahwa peningkatan biaya hidup adalah masalah utama yang dihadapi karyawan hari ini. Dalam setahun terakhir, 82% pimpinan SDM mengalami peningkatan tekanan dari karyawan untuk kenaikan gaji. Meskipun kenaikan gaji dan bonus sebagian besar bergantung pada kinerja bisnis, perusahaan juga dapat membangun kepercayaan dan mempertahankan staf melalui transparansi gaji. Transparansi ini membantu karyawan mengatasi kekhawatiran tentang biaya hidup dengan percaya diri. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tiga dari empat (77%) pimpinan bisnis percaya bahwa peningkatan transparansi gaji menciptakan budaya yang lebih sehat dan lebih adil.