Pangandaranku -
Jakarta (Pangandaranku) - Pengamat mendorong penguatan implementasi strategi pemerintah dalam menghadapi potensi risiko fenomena El Nino terhadap sektor pangan, terutama pada aspek pengelolaan air dan peningkatan produktivitas pertanian.
Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan, dampak El Nino terhadap produksi beras sangat bergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan yang dijalankan pemerintah.
“Dampak El Nino tidak selalu menurunkan produksi secara drastis, tetapi sangat tergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan,” kata Eliza saat dihubungi Pangandaranku, Jakarta, Jumat.
Ia menilai langkah pemerintah seperti peningkatan areal tanam, optimalisasi irigasi, dan penyediaan benih tahan kekeringan merupakan upaya mitigasi yang cukup tepat dilakukan untuk menjaga produksi pangan.
Namun demikian, menurut dia, efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah keterbatasan struktural di sektor pertanian nasional.
“Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, sementara sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar,” ujarnya.
Eliza menambahkan, adopsi teknologi pertanian dan varietas tahan kekeringan juga masih perlu lebih merata, sehingga kemampuan meningkatkan produktivitas sebagai kompensasi penurunan luas tanam masih terbatas.
Selain itu, skala usaha tani yang relatif kecil dengan dominasi petani gurem dinilai menjadi tantangan dalam percepatan intensifikasi pertanian.