Pangandaranku -
Pangandaranku, JAKARTA — Tren konsumsi real food dan minim proses semakin meningkat, termasuk dalam pemilihan pemanis. Berbagai alternatif gula seperti madu, sirup kurma, hingga puree buah kini banyak digunakan, baik dalam produk kemasan maupun resep viral di media sosial. Namun, apakah sumber gula tersebut lebih sehat dibandingkan gula biasa? Dilansir dari ABC News, Senin (20/4/2026), sejumlah ahli gizi menilai, meskipun berasal dari bahan alami, berbagai alternatif tersebut tetap mengandung gula yang memberikan efek serupa pada tubuh. Asisten profesor kedokteran di Yale School of Medicine, Dr Nate Wood, menjelaskan dari sisi metabolisme, madu, sirup maple, sirup kurma, gula kelapa, hingga gula putih tetap tergolong gula.
Pangandaranku, JAKARTA — Tren konsumsi real food dan minim proses semakin meningkat, termasuk dalam pemilihan pemanis. Berbagai alternatif gula seperti madu, sirup kurma, hingga puree buah kini banyak digunakan, baik dalam produk kemasan maupun resep viral di media sosial. Namun, apakah sumber gula tersebut lebih sehat dibandingkan gula biasa?
Dilansir dari ABC News, Senin (20/4/2026), sejumlah ahli gizi menilai, meskipun berasal dari bahan alami, berbagai alternatif tersebut tetap mengandung gula yang memberikan efek serupa pada tubuh. Asisten profesor kedokteran di Yale School of Medicine, Dr Nate Wood, menjelaskan dari sisi metabolisme, madu, sirup maple, sirup kurma, gula kelapa, hingga gula putih tetap tergolong gula.
Dilansir dari ABC News, Senin (20/4/2026), sejumlah ahli gizi menilai, meskipun berasal dari bahan alami, berbagai alternatif tersebut tetap mengandung gula yang memberikan efek serupa pada tubuh. Asisten profesor kedokteran di Yale School of Medicine, Dr Nate Wood, menjelaskan dari sisi metabolisme, madu, sirup maple, sirup kurma, gula kelapa, hingga gula putih tetap tergolong gula.
“Semua itu memberikan kalori dan meningkatkan kadar gula darah dengan cara yang pada dasarnya sama,” ujarnya. Ahli diet, Maya Feller, menambahkan pemilihan jenis gula sebaiknya disesuaikan dengan tujuan konsumsi, apakah untuk nilai gizi atau sekadar rasa manis. Ia menjelaskan berbagai jenis gula berada dalam spektrum yang berbeda, mulai dari high fructose corn syrup hingga gula tebu atau bit. Sementara itu, buah seperti kurma atau pisang dapat memberikan rasa manis tanpa dikategorikan sebagai gula tambahan. Pedoman diet di Amerika Serikat merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan kurang dari 50 gram per hari, atau tidak lebih dari 10 persen dari total asupan kalori harian. Meski demikian, Feller menyebut beberapa alternatif memiliki keunggulan tertentu. Misalnya, sirup kurma diketahui memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga dapat menjadi pilihan bagi individu yang ingin menjaga kadar gula darah. Sirup agave juga populer sebagai pemanis nabati dengan indeks glikemik rendah yang dapat digunakan dalam berbagai olahan makanan dan minuman. Namun, anggapan madu lebih sehat karena mengandung mineral dinilai kurang signifikan. “Kandungan vitamin atau mineral dalam madu sangat kecil, sehingga tidak memberikan dampak berarti bagi tubuh,” kata Feller. Wood juga menegaskan tubuh memproses berbagai jenis gula tersebut dengan cara yang sama, meskipun berasal dari bahan alami. Perbedaan nutrisi yang lebih nyata justru ditemukan pada pemanis yang masih mengandung serat. Serat diketahui dapat memperlambat proses pencernaan dan menahan lonjakan gula darah. Dalam hal ini, pasta kurma (yang dibuat dari buah kurma utuh) dinilai lebih baik karena masih mengandung serat alami. “Gula dari pasta kurma diserap lebih lambat dan disertai nutrisi lain dari buah utuh,” ujar Wood. Feller menambahkan, kurma merupakan sumber serat yang baik, sehingga olahan seperti date Snickers yang tengah viral dapat menjadi alternatif lebih sehat dibandingkan permen olahan. Selama dikonsumsi secara wajar. Meski begitu, ia mengingatkan mengikuti tren resep viral saja tidak cukup untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Pola makan yang konsisten dan kaya nutrisi tetap menjadi kunci utama. “Perubahan kesehatan metabolik memerlukan pola makan yang berkelanjutan, bukan hanya mengikuti satu resep yang sedang tren,” ujarnya
“Semua itu memberikan kalori dan meningkatkan kadar gula darah dengan cara yang pada dasarnya sama,” ujarnya.
Ahli diet, Maya Feller, menambahkan pemilihan jenis gula sebaiknya disesuaikan dengan tujuan konsumsi, apakah untuk nilai gizi atau sekadar rasa manis. Ia menjelaskan berbagai jenis gula berada dalam spektrum yang berbeda, mulai dari high fructose corn syrup hingga gula tebu atau bit. Sementara itu, buah seperti kurma atau pisang dapat memberikan rasa manis tanpa dikategorikan sebagai gula tambahan. Pedoman diet di Amerika Serikat merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan kurang dari 50 gram per hari, atau tidak lebih dari 10 persen dari total asupan kalori harian. Meski demikian, Feller menyebut beberapa alternatif memiliki keunggulan tertentu. Misalnya, sirup kurma diketahui memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga dapat menjadi pilihan bagi individu yang ingin menjaga kadar gula darah. Sirup agave juga populer sebagai pemanis nabati dengan indeks glikemik rendah yang dapat digunakan dalam berbagai olahan makanan dan minuman. Namun, anggapan madu lebih sehat karena mengandung mineral dinilai kurang signifikan. “Kandungan vitamin atau mineral dalam madu sangat kecil, sehingga tidak memberikan dampak berarti bagi tubuh,” kata Feller. Wood juga menegaskan tubuh memproses berbagai jenis gula tersebut dengan cara yang sama, meskipun berasal dari bahan alami. Perbedaan nutrisi yang lebih nyata justru ditemukan pada pemanis yang masih mengandung serat. Serat diketahui dapat memperlambat proses pencernaan dan menahan lonjakan gula darah. Dalam hal ini, pasta kurma (yang dibuat dari buah kurma utuh) dinilai lebih baik karena masih mengandung serat alami. “Gula dari pasta kurma diserap lebih lambat dan disertai nutrisi lain dari buah utuh,” ujar Wood. Feller menambahkan, kurma merupakan sumber serat yang baik, sehingga olahan seperti date Snickers yang tengah viral dapat menjadi alternatif lebih sehat dibandingkan permen olahan. Selama dikonsumsi secara wajar. Meski begitu, ia mengingatkan mengikuti tren resep viral saja tidak cukup untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Pola makan yang konsisten dan kaya nutrisi tetap menjadi kunci utama. “Perubahan kesehatan metabolik memerlukan pola makan yang berkelanjutan, bukan hanya mengikuti satu resep yang sedang tren,” ujarnya
Ahli diet, Maya Feller, menambahkan pemilihan jenis gula sebaiknya disesuaikan dengan tujuan konsumsi, apakah untuk nilai gizi atau sekadar rasa manis. Ia menjelaskan berbagai jenis gula berada dalam spektrum yang berbeda, mulai dari high fructose corn syrup hingga gula tebu atau bit. Sementara itu, buah seperti kurma atau pisang dapat memberikan rasa manis tanpa dikategorikan sebagai gula tambahan.
Pedoman diet di Amerika Serikat merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan kurang dari 50 gram per hari, atau tidak lebih dari 10 persen dari total asupan kalori harian. Meski demikian, Feller menyebut beberapa alternatif memiliki keunggulan tertentu. Misalnya, sirup kurma diketahui memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga dapat menjadi pilihan bagi individu yang ingin menjaga kadar gula darah. Sirup agave juga populer sebagai pemanis nabati dengan indeks glikemik rendah yang dapat digunakan dalam berbagai olahan makanan dan minuman. Namun, anggapan madu lebih sehat karena mengandung mineral dinilai kurang signifikan. “Kandungan vitamin atau mineral dalam madu sangat kecil, sehingga tidak memberikan dampak berarti bagi tubuh,” kata Feller. Wood juga menegaskan tubuh memproses berbagai jenis gula tersebut dengan cara yang sama, meskipun berasal dari bahan alami. Perbedaan nutrisi yang lebih nyata justru ditemukan pada pemanis yang masih mengandung serat. Serat diketahui dapat memperlambat proses pencernaan dan menahan lonjakan gula darah. Dalam hal ini, pasta kurma (yang dibuat dari buah kurma utuh) dinilai lebih baik karena masih mengandung serat alami. “Gula dari pasta kurma diserap lebih lambat dan disertai nutrisi lain dari buah utuh,” ujar Wood. Feller menambahkan, kurma merupakan sumber serat yang baik, sehingga olahan seperti date Snickers yang tengah viral dapat menjadi alternatif lebih sehat dibandingkan permen olahan. Selama dikonsumsi secara wajar. Meski begitu, ia mengingatkan mengikuti tren resep viral saja tidak cukup untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Pola makan yang konsisten dan kaya nutrisi tetap menjadi kunci utama. “Perubahan kesehatan metabolik memerlukan pola makan yang berkelanjutan, bukan hanya mengikuti satu resep yang sedang tren,” ujarnya
Pedoman diet di Amerika Serikat merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan kurang dari 50 gram per hari, atau tidak lebih dari 10 persen dari total asupan kalori harian.